Minggu, 26 Desember 2010

pertentangan pertentangan sosial dan integrasi masyarakat

Pertentangan- Pertentangan Sosial & Integrasi Masyarakat

kepentingan individu untuk memperoleh rasa aman dan perlindungan diri



kita melihat dari arti Kepentingan itu sendiri menurut saya merupakan hak/kebebasan kita sebagai individu untuk melakukan sesuai dengan keinginan kita dan jika kita merasa terpenuhi kepentingan itu kita merasa puas dan jika kepentingan itu tidak terpenuhi bisa berakibat masalah bagi individu yang lain, itu pengertian kepentingan menurut saya. Setiap individau itu berhak memiliki rasa aman demi kepentingan di dalam hidupnya. Namun individu juga harus memiliki perlindungan diri karena itu juga akan menimbulkan rasa aman bagi diri kita. Contoh dari kepentingan untuk mendapatkan rasa aman dan perlindungan diri yaitu dengan adanya Hak Asasi Manusia, hak asasi manusia berdasarkan beberapa pengertian adalah hak – hak pokok yang bersifat universal, jadi setiap manusia di dunia memiliki HAM dan tidak dapat dipisahkan dari pribadi siapapun dari manpun dan kapanpun manusia itu berada. Jadi kita sebagai individu berhak mendapatkan perlindungan diri beerupa hak untuk bebas demi mencapai rasa aman.


kepentingan individu untuk memperoleh kemerdekaan diri

sama seperti yang kita ulas di atas tadi bahwa kepentingan itu pasti dimiliki oleh setiap individu. Dan kepentingan setiap manusia itu harus terpenuhi demi terciptanya rasa aman. Dalam materi ini, kepentingan individu untuk memperoleh kemerdekaan diri itu dapat berupa hak kebebasan, contohnya kebebasan untuk memeluk agamanya dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya, kebebasan untuk menyatakan pikiran dan sikap sesuai dengan hati nuraninya, kebebasan untuk memilih pendidikan dan pengajaran, dan berhak untuk kembali, hak atas kemerdekaan berserikat, hak untuk berkumpul dan mengeluarkan pendapat.

STUDI KASUS
INTEGRASI MASYARAKAT

Pada saat ini integrasi sangat bias dirasakan di kasus seorang ibu yang mengeluh perawatan sebuah rumah sakit di sebuah email kepada teman-temannya dan dituntut oleh pihak rumah sakit tersebut dengan tuntutan pencemaran nama baik dan ibu tersebut harus membayar sejumlah uang akibat tuntutan tersebut. Para masyarakat melihat kasus ini merupakan sesuatu yang tidak adil dalam hokum di masyarakat dan masyarakat dari seluruh indonesia berintegrasi agar dapat membantu ibu tersebut yang menjadi kekejaman ketidak adilan hokum.
Para masyarakat berintegarsi mengumpulkan uang dan hasilnya lebih dari cukup.
Dan pada masa orde baru pun masyarakat seluruh Indonesia berintegrasi agar masa orde baru diturunkan. Dengan masyarakat berintegrasi maka behasil lah keinginan rakyat agar lepas dari pemerintahan orde baru.

hubungan timbal balik antara desa dan kota

sinopsis yang menyatakan kalau desa dan kota itu ada hubungan. Hubungan ini dinamakan dengan interaksi wilayah yaitu wilayah desa dan Kota. Jadi menurutmu apa yang dimaksud dengan interaksi wilayah ( Spatial Interaction ) ?

Interaksi wilayah (Spatial Interaction) adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antara dua wilayah atau lebih, yang dapat melahirkan gejala, kenampakkan dan permasalahan baru, secara langsung maupun tidak langsung, sebagai contoh antara kota dan desa.

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa interaksi antar wilayah memiliki tiga prinsip pokok sebagai berikut :

1. Hubungan timbal – balik terjadi antara dua wilayah atau lebih
2. Hubungan timbal balik mengakibatkan proses pengerakan yaitu :
* Pergerakan manusia (Mobilitas Penduduk)
* Pergerakan informasi atau gagasan, misalnya : informasi IPTEK, kondisi suatu wilayah
* Pergerakan materi / benda, misalnya distribusi bahan pangan, pakaian, bahan bangunan dan sebagainya
3. Hubungan timbal balik menimbulkan gejala, kenampakkan dan permasalahan baru yang bersifat positif dan negatif, sebagai contoh :
* kota menjadi sasaran urbanisasi
* terjadinya perkawinan antar suku dengan budaya yang berbeda

Jumat, 03 Desember 2010

peran orang tua terhadap anak

Peran Orangtua Terhadap AnakSebelum saya menjelaskan persoalan Anak ini, saya akan mengajak anda membaca berita tentang seorang pemain sirkus di Cairo Mesir, yang diceritakan kembali oleh Syekh Mustafa Mahmud dalam bukunya ‘Aku Telah Melihat Allah’.
Harian yang terbit pada hari itu sangat menarik dengan adanya tajuk berita tentang sirkus yang mengadakan pertunjukan keliling yang mengalami peristiwa yang jarang, bahkan belum pernah terjadi pada tiap kali mengadakan pertunjukan. Pertunjukan kali ini dikejutkan dengan si harimau “Sultan” yang biasa menyajikan keterampilannya di hadapan penonton, berbalik menjadi buas dan menerkam pelatihnya dari belakang, sewaktu sang pelatih Muhammad Al Hulu menghadapkan dirinya ke arah penonton dan memberi hormat tanda terima kasih. Mari kita baca berita selengkapnya apa yang di tulis wartawan harian tersebut:
Setelah tiba giliran untuk menyajikan pertunjukan keterampilan harimau, maka penonton pun bersorak dan bertepuk tanda gembira, yang memang adegan inilah yang sangat di nanti-nantikan, terutama kanak-kanak yang tiada putus-putusnya bersiul dan bersorak. Tidak lama dengan di iiringi tabuh genderang tersingkaplah tabir dari pintu belakang, maka keluarlah si Sultan, … harimau yang terampil dan di belakangnya berjalan sang pelatih dengan senyum bangga dan di tangan kanannya ia memegang cemeti komando yang biasa di gunakan untuk memerintah si Sultan melakukan sesuatu kemahiran sesuai dengan kehendak sang pelatih, sang pelatih memulai mengangkat kedua tangannya tanda besiap-siap dan suara ramai mulai berkurang dan berhenti. pertunjukan pun di mulai.
Adegan demi adegan selesai di pertunjukkan, penonton menggeleng-nggelengkan kepala tak henti-hentinya terheran-terheran dibuat oleh kepandaian si harimau yang patuh pada perintah-perintah sang pelatih … Selesai adegan terakhir, pelatihpun menghadapkan mukanya ke arah penonton membalas sorak sorai dan memberi hormat tanda terima kasih, … namun tiba-tiba secepat kilat tanpa didahului tanda-tanda apapun si Sultan yang tadinya jinak dan patuh, melompat ke arah punggung pelatihnya dengan muka yang buas dan garang, dengan auman yang menyeramkan terlihat taring giginya yang tajam dibenamkan ke dalam punggung si pelatih, dirobek kulit dan dagingnya yang menyebabkan lumuran darah yang menggenang di atas tanah. Pelatih yang dalam keadaan tersungkur di bawah tindihan harimau tak dapat sedikitpun mengelak dan mengadakan perlawanan.
Penonton setelah mengetahui dan melihat apa yang terjadi, saling lari tunggang langgang ribut cepat-cepat meninggalkan tempatnya, dan pada saat itu pula tampillah anak sipelatih dengan membawa sepotong tongkat besi berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan ayahnya, … tak lama hanya beberapa hari di rumah sakit, meninggallah sang ayah dengan hanya meninggalkan pesan singkat “Jangan sakiti dan jangan dibunuh”. Pelatih penjinak raja rimba meninggal dalam cengkeraman anak latihnya sendiri.
Sekarang mari kita tengok bagaimana halnya dengan si harimau. Setelah kejadian diatas dia langsung di masukkan ke dalam kandangnya, dan anehnya dia lebih banyak berdiam diri dari pada kebiasaannya jalan hilir mudik. Dia seakan-akan menyesali atas apa yang ia lakukan, sedih, melamun dan tidak mau makan. Hal ini segera dilaporkan kepada pimpinan, maka segera pimpinan sirkus menghubungi pengurus kebun binatang untuk memindahkan harimau. Pindahlah si harimau kekebun binatang dalam kandang besar dan lebih leluasa untuk bergerak. Enggan makan tetap tidak berubah walaupun sudah berada di kebun binatang, pengawas kebun binatang selalu mengawasi gerak-geriknya, lama-lama timbul pikiran” mungkin kalau disertai hewan betina maka ia kembali makan”. Dipilihlah lawan betina, lalu segera di masukkan kedalam kandang” sipelamun yang enggan makan, begitu lawan betina masuk, tanpa ucapan selamat datang langsung disambut dengan raungan yang menyeramkan, diserang, dicakar, digigit dan didorong, itulah sambutannya, dia menampakkan kebencian dan kemarahannya … keluarlah si betina dan kembalilah si Sultan seorang diri.
Penyesalan yang mendalam makin hari makin nampak walau tanpa bicara sekalipun. Sepintas lalu orang dapat memahami arti sikapnya yang demikian, dia dihantui oleh perbuatannya sendiri, gambar dari peristiwa yang mengerikan tidak dapat dihilangkan dari ingatannya. Tebusan apakah yang dapat memadai dengan perbuatannya ??
Makanan yang selalu diberikan oleh si penjaga tidak lagi di jamah sama sekali, … mogok makan ! Mungkin cara ini dapat memadai pikirnya, ah tidak ! belum memadai … gambaran-gambaran yang menyeramkan masih juga menghantui. Pada suatu hari, tibalah putusan terahir …” nyawa harus dibayar dengan nyawa’ tidak lain … syarafnya sudah berubah, putusannya sudah bulat, tindakannya sudah nekad. Dimarahinya diri sendiri, semula ekornya di belah dan di robek-robek, tiba sekarang gilirannya, tangan yang sudah ternoda dosa, dicaplok sendiri, dikunyak dan dilahapnya, dagingnya sendiri dimakan habis, dari tangan yang kanan berpindah ke tangan yang kiri, keduanya habislah sudah. Tangan-tangan yang sudah berbuat dosa, tiada tebusan lain melenyapkan kedua tangan tersebut. Baru sekarang tentramlah hatinya, dia sudah mengorbankan anggota badannya sendiri karena perbuatannya sendiri, ketentraman untuk selama-lamanya yang di iringi dengan kematiannya…..
Dari peristiwa diatas kita beralih ke diri kita, …. pada diri manusia, makhluk yang beradab, yang memiliki akal pikiran, memiliki nurani dan rasa, yang tahu sopan santun, tahu tata cara dan sebagainya. Sudah pernahkah kita mendengar pengorbanan manusia di karenakan penyesalan karena perbuatannya sendiri ? Pernahkah kita melihat manusia dengan penyesalannya memilih tebusan nyawanya ? Malahan kebalikannya yang kita dapati, manusia berbangga diri dengan kemenangan atas lawannya, hingga merupakan kebanggaan yang meluap-luap, dirayakan dengan iringan tabuh-tabuhan dan tari-tarian, dihidang-kan pula makanan lezat dan minuman segar. Jauh sekali dengan tindakan harimau diatas, kemenangannya dirayakan dengan tebusan nyawa…..
Sebenarnya sudah terjalin kasih sayang antara si harimau dengan sang pelatih, ucapan terkahir dari sang pelatih rupanya terdengar dengan si harimau, ucapan “jangan di sakiti dan jangan dibunuh” !! , maka ucapan ini di balas pula dengan ucapan jantan yang sesuai dengan martabat raja rimba. Timbul suatu pertanyaan mengapa seekor binatang memiliki pengertian dan menangkap keinginan kita. Bahkan bersikap seperti kepada indungnya, bersikap manja, mencari perhatian serta mengenal siapa tuannya. dan dia menangkap perasaan sedih dan kegembiraan tuannya … Dan dari peristiwa diatas terdapat kesimpulan, bahwa binatang yang berjuluk si raja Rimba ternyata bisa kita ajak berbicara, bergaul, bercanda, bermain, bermanja-manja, mengerti keinginan kita, mampu berkomunikasi dengan rasa, dan menangkap kecintaan dan kasih sayang yang dalam … dan ia menyesali atas kesalahan yang telah dilakukan terhadap tuannya ….tetapi mengapa manusia kadang tidak mampu menangkap keinginan kita ?? Bahkan sering mengabaikan kata-kata sebagai bahasa peradaban manusia yang tinggi. Entah berapa kali kita dinasehati oleh orang tua kita, oleh guru kita, akan tetapi mengapa kita tidak mampu mencerap nasehat itu, padahal bahasa itu sangat mudah dipahami…. Juga ketika berbicara kepada istri dan anak kita, terasa sekali kata-kata kita tidak menembus dan mengubahkan perilaku atau perasaan anak dan istri, sehingga tetap saja mereka melakukan hal yang tidak baik … sampai-sampai kita menjadi marah bahkan ingin sekali memukulnya agar menuruti kemauan kita. Hampir tidak ada cara untuk mengatasi persoalan ini, untuk melampiaskannya kita mencoba mengirim anak-anak ke asrama atau pesantren yang dididik disiplin secara ketat, namun tetap saja masalah itu tidak teratasi, … bahkan kadang anak kita tidak menjadi dirinya yang sebenarnya, karena doktrin yang mengekang perkembangan mental anak tersebut.
Rasa adalah sebuah penghubung keinginan kita
Ada saluran yang tidak terhubung kepada anak kita, selama ini kita berkomunikasi kepada anak kita menggunakan saluran gelombang suara yang menghantarkan susunan huruf yang mengandung arti tertentu (kata-kata), pesan-pesan dari mata (apa yang dilihat), telinga (yang didengar), peraba (apa yang disentuh), perasa (lidah), penciuman di bawa melalui thalamus. Thalamus bersama cortex adalah pusat yang menggabungkan informasi yang baru masuk supaya semua data yang masuk menjadi sebuah pengalaman … syaraf mendorong ke dalam dua tonjolan kecil di bagian dasar thalamus ini.
Dan manusia memiliki pengalaman karena data-data yang masuk menjadi sebuah pengertian. akan tetapi dari semua itu tidak tertulis data yang berasal dari “rasa” yang juga bisa memberikan masukan data yang disampaikan kepada thalamus untuk memberikan pengertian dan pengalaman, .karena rasa sayang itu bukan berasal dari sentuhan, penglihatan, kata-kata, dan instrumen tubuh …akan tetapi berasal dari rasa rohani yang memiliki banyak data untuk memberikan pengalaman bagi kita. Misalnya rasa cinta, rasa rindu, rasa gundah, rasa marah, rasa sayang …semua itu bukan dari data yang disampaikan oleh indra tubuh kita, akan tetapi dari rohani atau jiwa kita…
Kita telah menghilangkan data informasi yang paling penting dalam diri kita dan anak kita…setelah kita memberikan informasi berupa data-data, … berupa apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang di sentuh …namun apa yang di rasa rupanya telah hilang. Kita telah meninggalkan komunikasi rasa yang memiliki muatan pengertian yang hakiki dan lengkap, … kata-kata dan informasi yang diberikan oleh tubuh tidak mampu memberikan selengkap rasa, … namun cinta dan kasih sayang memiliki kesempurnaan informasi dan tidak cacat !!
Jika hal ini anda informasikan kepada binatang, kepada tanaman, kepada benda-benda, … maka informasi rasa itu akan ditangkapnya dan sebaliknya anda akan menangkap keinginan semua yang anda beri informasi tersebut…
Rasulullah menggambarkan adanya rasa ini adalah dengan di anjurkannya saling memberikan salam dan silaturrahmi, guna menghubungkan rasa yang memiliki data lengkap mengenai keinginan antara kita ! Sehingga mustahil kita akan terjadi konflik jika anda mengerti keinginan saya secara lengkap… lebih lengkap dari kata-kata….!!
Mari kita bahas secara khusus ..apakah silaturrahmi itu ??
Saya akan tunjukkan sebuah hadits Rasulullah mengenai hal ini.
“Shil man qatha aka …wa ahsin ila man asa’a ilaika. wakulil haqq walau `ala nafsika!!”
Sambungkan silaturrahmi yang terputus, dan bersikaplah ihsan (baik) kepada orang yang membeci kamu, dan katakanlah kebenaran (secara jujur) walaupun kepada dirimu sendiri ( Hadits shahih riwayat Ali dari Ibnu Najar, kitab Jami’ush Shaghier jilid II hal. 44 )
Kalimat “Shil ” adalah bentuk perintah (amar) berasal dari kata shalla-yashillu-shillatan, yang berarti menghubungkan …seperti pada kalimat “shilatur rahmi” menghubungkan rasa sayang ….
Seperti apa yang saya katakan diatas bahwa rahmi/ rahiem (rasa sayang) tidak termasuk indra dalam fisik kita yang selama ini memberikan informasi kepada otak untuk mendapatkan pengertian dan pengalamannya. Akan tetapi rasa sayang ini berasal dari rohani atau jiwa, sehingga kita membutuhkan pengertian lagi untuk mengetahui ‘apa itu rasa’ dan ‘bagaimana’ kita menghubungkan rasa itu kepada otak kita dan orang lain, walaupun orang lain itu tidak mampu menangkap rasa itu sebelumnya. Namun dikarenakan rasa itu bersifat rohani yang bisa di salurkan kedalam jiwa orang itu maupun kepada binatang maka orang itu akan menerima rasa itu dengan lengkap dan sempurna …
Pengalaman sehari-sehari kita sering menerapkan hal ini tanpa kita sadari, bagi orang yang penyayang binatang akan mengerti akan hal ini, karena rasa sayang ia salurkan setiap saat, sehingga binatang itu mampu menangkap pengertian yang disalurkan melalui rasa itu ….Rasa sayang benar-benar merupakan sarana untuk menghantarkan sebuah pengertian, seperti sebuah kalimat yang terangkai dalam intonasi dan artikulasi yang menghasilkan bunyi dan mengandung makna yang mampu menghubungkan sebuah pengertian yang biasa disebut dengan bahasa !!
Seorang bayi memiliki kepekaan menangkap informasinya melalui rasanya..dan seorang ibu adalah orang yang memiliki kemampuan memberikan informasi kepadanya, kadang melalui saat menyusui, … saat dalam dekapan, … dalam kidung-kidung yang sejuk, serta dalam kecintaannya yang tulus ….
Dalam keadaan rasa tersambung itulah sang ibu memberikan informasi rasa sayang (silaturrahmi) yang akan menghantarkan keinginan dan keadaan jiwa orang tuanya. Jika ternyata orang tuanya memilki hati yang kotor, … sang bayi akan menangkap dan akhirnya terkontaminasi oleh polusi jiwa orang tuanya, sehingga jangan heran jika anak-anak kita menjadi aneh pada usia yang sangat muda telah melakukan kejahatan yang tidak pernah kita ajarkan. Memang kita tidak pernah mengajarkan sesuatu yang buruk dihadapan anak kita, akan tetapi keadaan jiwa kita lah yang tertangkap oleh jiwa anak kita ketika masih bersih (fitrah)….Kita telah menghubungkan rasa buruk (silatus su’) kepada jiwa anak kita … Mengapa uang hasil korupsi, hasil mencuri, hasil menipu itu di haramkan, padahal secara fisik makanan yang kita beli adalah yang terbaik dan bergizi, berlebel halal dari MUI, dan akan menyebabkan secara fisik membentuk pertubuhan yang baik dan sehat. Akan tetapi, … karena jiwa sang ayah telah terkotori karena melanggar ketentuan Tuhannya dan mengabaikan kesucian jiwa, … maka jiwa sang ayah telah memberikan informasi (mentransfer) kekotoran jiwanya kemudian di tangkap oleh jiwa anak-anak yang tidak tahu apa-apa ! Informasi inilah yang akan menuntun kejiwaan anak-anak ini untuk melakukan watak kejahatan-kejahatan yang baru diperolehnya tanpa disadarinya….
Sering kita mendengar mitos di dalam masyarakat tradisonal, hati-hati lho, kalau istri sedang hamil jangan membunuh binatang, … jangan berkata rusuh (kotor) nanti anakmu cacat … Kalau saya tangkap pesan orang tua dulu, itu adalah bukan cacat secara fisik akan tetapi cacat mentalnya / jiwanya. Karena seseorang yang membunuh binatang bisa dipastikan dia menggunakan kejiwaan yang keji dan rasa benci yang timbul dalam jiwanya dan jiwa inilah yang akan tertangkap pertama kali oleh jiwa anak-anak kita yang pada akhirnya kita ikut andil meletakkan batu pertama kerusakan dimuka bumi ini dengan menyimpan memori kejahatan dibalik jiwa anak kita….
Akan tetapi jika jiwa kita bersih dan menjaga agar tetap bersih akan secara otomatis mengalirkan jiwa yang bersih kepada anak-anak kita …dan kita telah termasuk ikut andil dalam membangun masyarakat sakinah .
Rasulullah telah mencontohkannya dalam bergaul dan menghubungkan rasa sayang kepada kedua cucunya, beliau diminta merangkak untuk menjadi kuda-kudaan, dengan perasaan sayang Rasulullah menemani cucunya dengan sikap kekanak-kanakan yang beliau ekspresikan untuk menyenangkan kedua permata hatinya.
Rasulullah sangat mencintai istri-istrinya karena dengan cinta dan rasa sayang, para istri mampu menangkap keinginan dan pesan-pesan jiwa Rasulullah yang suci….
Mari kita perhatikan hubungan antara sang bayi dan ibunya ketika proses menyusui.
Seorang ibu, yang keinginan untuk menyusuinya besar, akan lebih berhasil dalam usahanya dari pada ibu yang dari semula memang enggan. Dalam menyusui ada suatu kerja sama antara ibu dan anak, reaksi yang saling bersambut. Bila mulut bayi menyentuh puting susu ibunya, refleks penghisapnya segera bekerja, sedangkan pada ibunya agar susu bisa mengalir lancar, yang terjadi ; …. suatu hormon lain dari kelenjar bawah otak yang dinamakan oksitoksin akan menimbulkan kontraksi pada sel-sel lain sekitar alveoli, mengakibatkan susu mengalir turun ke arah puting, sehingga bisa di isap oleh bayi. Turunnya susu dari alveoli disebut refleks pengaliran susu. Refleks ini merupakan reaksi dari isapan bayi. Ibu dan bayi akan merasakan kenikmatan yang menyenangkan bila tubuh ibu telah terbiasa untuk kengalirkan susu. Emosi dan keadaan psikis si ibu sangat mempengaruhi refleks pengaliran susu ini, karena refleks ini pengontrol perintah yang dikirimkan oleh hipotalamus pada kelenjar bawah otak. Bila di pengaruhi ketegangan, rasa cemas, takut dan kebingungan, susu tak akan turun dari alveoli menuju puting. Hal ini sering terjadi pada hari-hari pertama waktu menyusui, di mana refleks si ibu belum sepenuhnya berfungsi, refleks pengaliran susu dapat berfungsi dengan baik hanya dalam suasana tenang, santai & tidak tegang. Suasana ini bisa dicapai bila si ibu punya kepercayaan pada diri sendiri bahwa ia pasti bisa menyusui. Dan dengan adanya rasa tenang dan gembira sangat mempengaruhi kejiwaan anak secara langsung melalui aliran jiwa yang bening ….
Lalu bagaimana mengalirkan informasi kejiwaan kepada anak-anak kita yang sudah beranjak dewasa ??
Rasululah menyarankan untuk bersilaturrahmi, mengirimkan rasa sayang dan gembira serta menerima anak-anak itu apa adanya … alirkanlah rasa sayang itu benar-benar dari jiwa yang bersih …. ketika ia sedang tidur … ketika sedang bepergian … dengan cara mendoakan secara khusus …dengan perasaan hening dan damai … lama kelamaan anak-anak kita akan mengerti kejiwaan secara
penuh dan sempurna …
Anak-anak anda akan menuruti kemauan anda dengan damai serta menerima dengan baik keinginan yang tersembunyi dalam pikiran dan perasaan anda. Mungkin inilah yang dimaksud dengan kecerdasan jiwa, yang telah lama di tinggalkan oleh kebanyakan orang islam ..
Doakan anak-anak kita dengan getaran jiwa yang bersih, biasanya getaran itu bersambung … kadang-kadang anak-anak itu melaksanakan keinginan kita yang belum terucapkan kepada mereka … rasakan getaran sayang anda … rasakan dan masukkan pesan-pesan anda dalam doa … hantarkan jiwa mereka menuju kepada Allah … hantarkan dengan rasa cinta … tetaplah dalam dekapan sayang … agar anda merasakan hangatnya cinta itu … biarkan hati anda memandang jiwa mereka dengan bening …
Lakukanlah sesering mungkin, … .insya Allah jiwa anak-anak kita akan menerima pesan-pesan secara lengkap …. dari jiwa kita yang bergantung pasrah kepada Allah….
Suatu ketika saya kedatangan seorang tamu, … mengeluhkan anaknya yang terjerumus kedalam pergaulan generasi pengguna narkontika … sang ibu bingung karena anaknya jarang pulang. Saya menyarankan kepada ibu ini agar bersujud menghubungkan rohaninya kepada Allah kemudian mengeluhkannya kepada-Nya … dan mengalirkan perasaannya kepada jiwa anaknya yang telah
terjerumus ini … tidak lama kemudian anaknya pulang, … kemudian tanpa di suruh dan diperintahkan apa-apa oleh ibunya … tiba-tiba dia ingin terbebas dari kecanduan narkotika (jenis putau) … Dengan keinginan yang tulus, akhirnya anak tersebut sembuh secara total bahkan melaksanakan shalat yang wajib !!
Dan kepada orang yang membenci kalian, Rasulullah menganjurkan agar posisi jiwa kita tetap bersih …tanpa membalas kebencian itu, … karena silaturrahmi kita tidak akan sampai kepada jiwa dia yang sedang sakit, untuk itu pertahankanlah kebesihan jiwa kita agar kita bisa berkomunikasi kepada siapa saja dengan jiwa yang mampu menembus … alam-alam yang jauh disana …
Seorang ibu yang telah terhubung perasaannya dengan anaknya yang berada jauh di perantauan, akan merasakan getaran jiwa anaknya yang sedang dilanda kegalauan dan persoalan yang terjadi padanya. Ini dikarenakan rasa jujur dari seorang ibunya yang mengalirkan rasa cinta dan sayang, sehingga rasa itu ditangkap oleh jiwa anak itu… Akan tetapi jika rasa sayang yang mengalir kedalam jiwa anak itu tidak memberikan pesan apa-apa, maka jadilah anak itu menjadi anak yang hanya bermanja-manja, dikarenakan rasa itu tidak mengirimkan sinyal informasi keinginan kita, … kecuali kekosongan. Atau sebaliknya jika rasa sayang itu mengalir dengan keadaan jiwa kotor maka “rasa” itu memuat keadaan keburukan jiwa kita, … hal ini bukan seperti yang disebut dengan dosa warisan dalam ajaran kristiani, karena hanya bersifat informasi seperti halnya anda mendapatkan informasi dari pesan-pesan yang di muat dalam bentuk suara (rumus-rumus huruf / kalimat ), gelombang radio, gelombang UHF dll. …
Demikian kiranya informasi yang saya utarakan merupakan keadaan yang mudah kita laksanakan, asalkan kita mampu membersihkan jiwa kita dengan banyak berdzikir kepada Allah…dengan banyak berdzikir kepada Allah jiwa kita akan menjadi tenang ..dan ketenangan jiwa inilah yang bersifat universal mampu menghantarkan muatan pengertian yang terkandung dalam jiwa kita ….
Namun dari semua itu saya tidak berani mengatakan bahwa jiwa kita yang kotorlah yang ikut andil besar dalam merusak mental anak-anak kita …hal ini saya hanya menampilkan sebuah faktor yang paling penting dari semua pengaruh terhadap mental anak kita … Karena itu, saya menggantungkan kepada Allah semata …dengan menyerahkan kepada Allah melalui doa-doa, … karena sehebat apapun kita …tetap Allah jualah yang akan membukakan hidayah untuk anak-anak kita …innaka la tahdi man ahbabta…sesungguhnya kalian tidak akan mampu membukakan hidayah kepada orang yang kamu cintai sekalipun ….
Demikian uraian saya agar menjadi renungan kita bersama ….setelah kita berusaha membimbing anak-anak kita …mari kita berdoa dengan tulus untuk jiwa anak-anak kita .
Ya Allah …berkehendaklah …terhadap diriku dan anak cucuku ……

Kamis, 25 November 2010

Perkawinan campuran telah merambah ke-seluruh pelosok Tanah Air dan kelas masyarakat. Globalisasi informasi, ekonomi, pendidikan, dan transportasi telah menggugurkan stigma bahwa kawin campur adalah perkawinan antara ekspatriat kaya dan orang Indonesia. Menurut survey yang dilakukan oleh Mixed Couple Club, jalur perkenalan yang membawa pasangan berbeda kewarganegaraan menikah antara lain adalah perkenalan melalui internet, kemudian bekas teman kerja/bisnis, berkenalan saat berlibur, bekas teman sekolah/kuliah, dan sahabat pena. Perkawinan campur juga terjadi pada tenaga kerja Indonesia dengan tenaga kerja dari negara lain. Dengan banyak terjadinya perkawinan campur di Indonesia sudah seharusnya perlindungan hukum dalam perkawinan campuran ini diakomodir dengan baik dalam perundang-undangan di indonesia. Dalam perundang-undangan di Indonesia, perkawinan campuran didefinisikan dalam Undang-undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, pasal 57 : ”yang dimaksud dengan perkawinan campuran dalam Undang-undang ini ialah perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia”. Selama hampir setengah abad pengaturan kewarganegaraan dalam perkawinan campuran antara warga negara indonesia dengan warga negara asing, mengacu pada UU Kewarganegaraan No.62 Tahun 1958. Seiring berjalannya waktu UU ini dinilai tidak sanggup lagi mengakomodir kepentingan para pihak dalam perkawinan campuran, terutama perlindungan untuk istri dan anak. Menurut teori hukum perdata internasional, untuk menentukan status anak dan hubungan antara anak dan orang tua, perlu dilihat dahulu perkawinan orang tuanya sebagai persoalan pendahuluan, apakah perkawinan orang tuanya sah sehingga anak memiliki hubungan hukum dengan ayahnya, atau perkawinan tersebut tidak sah, sehingga anak dianggap sebagai anak luar nikah yang hanya memiliki hubungan hukum dengan ibunya. Dalam sistem hukum Indonesia, Prof. Sudargo Gautama menyatakan kecondongannya pada sistem hukum dari ayah demi kesatuan hukum dalam keluarga, bahwa semua anak–anak dalam keluarga itu sepanjang mengenai kekuasaan tertentu orang tua terhadap anak mereka (ouderlijke macht) tunduk pada hukum yang sama. Kecondongan ini sesuai dengan prinsip dalam UU Kewarganegaraan No. 62 tahun 1958. Kecondongan pada sistem hukum ayah demi kesatuan hukum, memiliki tujuan yang baik yaitu kesatuan dalam keluarga, namun dalam hal kewarganegaraan ibu berbeda dari ayah, lalu terjadi perpecahan dalam perkawinan tersebut maka akan sulit bagi ibu untuk mengasuh dan membesarkan anak-anaknya yang berbeda kewarganegaraan, terutama bila anak-anak tersebut masih dibawah umur. Barulah pada 11 Juli 2006, DPR mengesahkan Undang-Undang Kewarganegaraan yang baru. Lahirnya undang-undang ini disambut gembira oleh sekelompok kaum ibu yang menikah dengan warga negara asing, walaupun pro dan kontra masih saja timbul, namun secara garis besar Undang-undang baru yang memperbolehkan dwi kewarganegaraan terbatas ini sudah memberikan pencerahan baru dalam mengatasi persoalan-persoalan yang lahir dari perkawinan campuran. Persoalan yang rentan dan sering timbul dalam perkawinan campuran adalah masalah kewarganegaraan anak. UU kewarganegaraan yang lama menganut prinsip kewarganegaraan tunggal, sehingga anak yang lahir dari perkawinan campuran hanya bisa memiliki satu kewarganegaraan, yang dalam UU tersebut ditentukan bahwa yang harus diikuti adalah kewarganegaraan ayahnya. Pengaturan ini menimbulkan persoalan apabila di kemudian hari perkawinan orang tua pecah, tentu ibu akan kesulitan mendapat pengasuhan anaknya yang warga negara asing. Dengan lahirnya UU Kewarganegaraan yang baru, sangat menarik untuk dikaji bagaimana pengaruh lahirnya UU ini terhadap status hukum anak dari perkawinan campuran. Definisi anak dalam pasal 1 angka 1 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak adalah : “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”. Dalam hukum perdata, diketahui bahwa manusia memiliki status sebagai subjek hukum sejak ia dilahirkan. Pasal 2 KUHP memberi pengecualian bahwa anak yang masih dalam kandungan dapat menjadi subjek hukum apabila ada kepentingan yang menghendaki dan dilahirkan dalam keadaan hidup. Manusia sebagai subjek hukum berarti manusia memiliki hak dan kewajiban dalam lalu lintas hukum. Namun tidak berarti semua manusia cakap bertindak dalam lalu lintas hukum. Orang-orang yang tidak memiliki kewenangan atau kecakapan untuk melakukan perbuatan hukum diwakili oleh orang lain. Dengan demikian anak dapat dikategorikan sebagai subjek hukum yang tidak cakap melakukan perbuatan hukum. Seseorang yang tidak cakap karena belum dewasa diwakili oleh orang tua atau walinya dalam melakukan perbuatan hukum. Anak yang lahir dari perkawinan campuran memiliki kemungkinan bahwa ayah ibunya memiliki kewarganegaraan yang berbeda sehingga tunduk pada dua yurisdiksi hukum yang berbeda. Berdasarkan UU Kewarganegaraan yang lama, anak hanya mengikuti kewarganegaraan ayahnya, namun berdasarkan UU Kewarganegaraan yang baru anak akan memiliki dua kewarganegaraan. Menarik untuk dikaji karena dengan kewarganegaraan ganda tersebut, maka anak akan tunduk pada dua yurisdiksi hukum. Bila dikaji dari segi hukum perdata internasional, kewarganegaraan ganda juga memiliki potensi masalah, misalnya dalam hal penentuan status personal yang didasarkan pada asas nasionalitas, maka seorang anak berarti akan tunduk pada ketentuan negara nasionalnya. Bila ketentuan antara hukum negara yang satu dengan yang lain tidak bertentangan maka tidak ada masalah, namun bagaimana bila ada pertentangan antara hukum negara yang satu dengan yang lain, lalu pengaturan status personal anak itu akan mengikuti kaidah negara yang mana. Lalu bagaimana bila ketentuan yang satu melanggar asas ketertiban umum pada ketentuan negara yang lain. Sebagai contoh adalah dalam hal perkawinan, menurut hukum Indonesia, terdapat syarat materil dan formil yang perlu dipenuhi. Ketika seorang anak yang belum berusia 18 tahun hendak menikah maka harus memuhi kedua syarat tersebut. Syarat materil harus mengikuti hukum Indonesia sedangkan syarat formil mengikuti hukum tempat perkawinan dilangsungkan. Misalkan anak tersebut hendak menikahi pamannya sendiri (hubungan darah garis lurus ke atas), berdasarkan syarat materiil hukum Indonesia hal tersebut dilarang (pasal 8 UU No. 1 tahun 1974), namun berdasarkan hukum dari negara pemberi kewarganegaraan yang lain, hal tersebut diizinkan, lalu ketentuan mana yang harus diikutinya. kasus status kewarganegaraan orang yang lahir dlm perkawinan campuran

Perkawinan campuran telah merambah ke-seluruh pelosok Tanah Air dan kelas masyarakat. Globalisasi informasi, ekonomi, pendidikan, dan transportasi telah menggugurkan stigma bahwa kawin campur adalah perkawinan antara ekspatriat kaya dan orang Indonesia. Menurut survey yang dilakukan oleh Mixed Couple Club, jalur perkenalan yang membawa pasangan berbeda kewarganegaraan menikah antara lain adalah perkenalan melalui internet, kemudian bekas teman kerja/bisnis, berkenalan saat berlibur, bekas teman sekolah/kuliah, dan sahabat pena. Perkawinan campur juga terjadi pada tenaga kerja Indonesia dengan tenaga kerja dari negara lain. Dengan banyak terjadinya perkawinan campur di Indonesia sudah seharusnya perlindungan hukum dalam perkawinan campuran ini diakomodir dengan baik dalam perundang-undangan di indonesia.
Dalam perundang-undangan di Indonesia, perkawinan campuran didefinisikan dalam Undang-undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, pasal 57 : ”yang dimaksud dengan perkawinan campuran dalam Undang-undang ini ialah perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia”.

Selama hampir setengah abad pengaturan kewarganegaraan dalam perkawinan campuran antara warga negara indonesia dengan warga negara asing, mengacu pada UU Kewarganegaraan No.62 Tahun 1958. Seiring berjalannya waktu UU ini dinilai tidak sanggup lagi mengakomodir kepentingan para pihak dalam perkawinan campuran, terutama perlindungan untuk istri dan anak.
Menurut teori hukum perdata internasional, untuk menentukan status anak dan hubungan antara anak dan orang tua, perlu dilihat dahulu perkawinan orang tuanya sebagai persoalan pendahuluan, apakah perkawinan orang tuanya sah sehingga anak memiliki hubungan hukum dengan ayahnya, atau perkawinan tersebut tidak sah, sehingga anak dianggap sebagai anak luar nikah yang hanya memiliki hubungan hukum dengan ibunya.

Dalam sistem hukum Indonesia, Prof. Sudargo Gautama menyatakan kecondongannya pada sistem hukum dari ayah demi kesatuan hukum dalam keluarga, bahwa semua anak–anak dalam keluarga itu sepanjang mengenai kekuasaan tertentu orang tua terhadap anak mereka (ouderlijke macht) tunduk pada hukum yang sama. Kecondongan ini sesuai dengan prinsip dalam UU Kewarganegaraan No. 62 tahun 1958.

Kecondongan pada sistem hukum ayah demi kesatuan hukum, memiliki tujuan yang baik yaitu kesatuan dalam keluarga, namun dalam hal kewarganegaraan ibu berbeda dari ayah, lalu terjadi perpecahan dalam perkawinan tersebut maka akan sulit bagi ibu untuk mengasuh dan membesarkan anak-anaknya yang berbeda kewarganegaraan, terutama bila anak-anak tersebut masih dibawah umur.

Barulah pada 11 Juli 2006, DPR mengesahkan Undang-Undang Kewarganegaraan yang baru. Lahirnya undang-undang ini disambut gembira oleh sekelompok kaum ibu yang menikah dengan warga negara asing, walaupun pro dan kontra masih saja timbul, namun secara garis besar Undang-undang baru yang memperbolehkan dwi kewarganegaraan terbatas ini sudah memberikan pencerahan baru dalam mengatasi persoalan-persoalan yang lahir dari perkawinan campuran.

Persoalan yang rentan dan sering timbul dalam perkawinan campuran adalah masalah kewarganegaraan anak. UU kewarganegaraan yang lama menganut prinsip kewarganegaraan tunggal, sehingga anak yang lahir dari perkawinan campuran hanya bisa memiliki satu kewarganegaraan, yang dalam UU tersebut ditentukan bahwa yang harus diikuti adalah kewarganegaraan ayahnya. Pengaturan ini menimbulkan persoalan apabila di kemudian hari perkawinan orang tua pecah, tentu ibu akan kesulitan mendapat pengasuhan anaknya yang warga negara asing.

Dengan lahirnya UU Kewarganegaraan yang baru, sangat menarik untuk dikaji bagaimana pengaruh lahirnya UU ini terhadap status hukum anak dari perkawinan campuran. Definisi anak dalam pasal 1 angka 1 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak adalah : “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”.

Dalam hukum perdata, diketahui bahwa manusia memiliki status sebagai subjek hukum sejak ia dilahirkan. Pasal 2 KUHP memberi pengecualian bahwa anak yang masih dalam kandungan dapat menjadi subjek hukum apabila ada kepentingan yang menghendaki dan dilahirkan dalam keadaan hidup. Manusia sebagai subjek hukum berarti manusia memiliki hak dan kewajiban dalam lalu lintas hukum. Namun tidak berarti semua manusia cakap bertindak dalam lalu lintas hukum. Orang-orang yang tidak memiliki kewenangan atau kecakapan untuk melakukan perbuatan hukum diwakili oleh orang lain.

Dengan demikian anak dapat dikategorikan sebagai subjek hukum yang tidak cakap melakukan perbuatan hukum. Seseorang yang tidak cakap karena belum dewasa diwakili oleh orang tua atau walinya dalam melakukan perbuatan hukum. Anak yang lahir dari perkawinan campuran memiliki kemungkinan bahwa ayah ibunya memiliki kewarganegaraan yang berbeda sehingga tunduk pada dua yurisdiksi hukum yang berbeda. Berdasarkan UU Kewarganegaraan yang lama, anak hanya mengikuti kewarganegaraan ayahnya, namun berdasarkan UU Kewarganegaraan yang baru anak akan memiliki dua kewarganegaraan. Menarik untuk dikaji karena dengan kewarganegaraan ganda tersebut, maka anak akan tunduk pada dua yurisdiksi hukum.

Bila dikaji dari segi hukum perdata internasional, kewarganegaraan ganda juga memiliki potensi masalah, misalnya dalam hal penentuan status personal yang didasarkan pada asas nasionalitas, maka seorang anak berarti akan tunduk pada ketentuan negara nasionalnya. Bila ketentuan antara hukum negara yang satu dengan yang lain tidak bertentangan maka tidak ada masalah, namun bagaimana bila ada pertentangan antara hukum negara yang satu dengan yang lain, lalu pengaturan status personal anak itu akan mengikuti kaidah negara yang mana. Lalu bagaimana bila ketentuan yang satu melanggar asas ketertiban umum pada ketentuan negara yang lain.

Sebagai contoh adalah dalam hal perkawinan, menurut hukum Indonesia, terdapat syarat materil dan formil yang perlu dipenuhi. Ketika seorang anak yang belum berusia 18 tahun hendak menikah maka harus memuhi kedua syarat tersebut. Syarat materil harus mengikuti hukum Indonesia sedangkan syarat formil mengikuti hukum tempat perkawinan dilangsungkan. Misalkan anak tersebut hendak menikahi pamannya sendiri (hubungan darah garis lurus ke atas), berdasarkan syarat materiil hukum Indonesia hal tersebut dilarang (pasal 8 UU No. 1 tahun 1974), namun berdasarkan hukum dari negara pemberi kewarganegaraan yang lain, hal tersebut diizinkan, lalu ketentuan mana yang harus diikutinya.
Dalam menentukan kewarganegaraan seseorang, dikenal dengan adanya asas kewarganegaraan berdasarkan kelahiran dan asas kewaraganegaraan berdasarkan perkawinan. Dalam penentuan kewarganegaraan didasarkan kepada sisi kelahiran dikenal dua asas yaitu asas ius soli dan ius sanguinis. Ius artinya hukum atau dalil. Soli berasal dari kata solum yang artinya negari atau tanah. Sanguinis berasal dari kata sanguis yang artinya darah. Asas Ius Soli; Asas yang menyatakan bahawa kewarganegaraan seseorang ditentukan dari tempat dimana orang tersebut dilahirkan. Asas Ius Sanguinis; Asas yang menyatakan bahwa kewarganegaraan sesorang ditentukan beradasarkan keturunan dari orang tersebut.
Selain dari sisi kelahiran, penentuan kewarganegaraan dapat didasarkan pada aspek perkawinan yang mencakupa asas kesatuan hukum dan asas persamaan derajat. Asas persamaan hukum didasarkan pandangan bahwa suami istri adalah suatu ikatan yang tidak terpecahkan sebagai inti dari masyarakat. Dalam menyelenggarakan kehidupan bersama, suami istri perlu mencerminkan suatu kesatuan yang bulat termasuk dalam masalah kewarganegaraan. Berdasarkan asas ini diusahakan ststus kewarganegaraan suami dan istri adalah sama dan satu.
Penentuan kewarganegaraan yang berbeda-beda oleh setiap negara dapat menciptakan problem kewarganegaraan bagi seorang warga. Secara ringkas problem kewarganegaraan adalah munculnya apatride dan bipatride. Appatride adalah istilah untuk orang-orang yang tidak memiliki kewarganegaraan. Bipatride adalah istilah untuk orang-orang yang memiliki kewarganegaraan ganda (rangkap dua). Bahkan dapat muncul multipatride yaitu istilah untuk orang-orang yang memiliki kewarganegaraan yang banyak (lebih dari 2).
Adapun Undang-Undang yang mengatur tentang warga negara adalah Undang-Undang No.12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Pewarganegaraan adalah tatacara bagi orang asing untuk memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia melalui permohonan. Dalam Undang-Undang dinyatakan bahwa kewarganegaraan Republik Indonesia dapat juga diperoleh memalului pewarganegaraan.
Permohonan pewarganegaraan dapat diajukan oleh pemohon juika memenuhi persyaratan sebagai berikut: telah berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin, pada waktu mengajukan permohonan sudah bertempat tinggal di wilayah negara Republik Indonesia paling singkat 5 (lima) tahun berturut-turut atau paling singkat 10 (sepuluh) tahun tidak berturut-turut, sehat jasmani dan rohani, dapat berbahasa Indonesia serta mengakui dasar negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, tidak pernah dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 1 (satu) tahun, jika dengan memperoleh kewarganegaraan Indonesia, tidak menjadi kewarganegaraan ganda, mempunyai pekerjaan dan/atau berpenghasilan tetap, membayar uang pewarganegaraan ke Kas Negara.
Hilangnya Kewarganegaraan Indonesia diantaranya; memperoleh kewarganegaraan lain atas kemauannya sendiri, tidak menolak atau melepaskan kewarganegaraan lain, sedangkan orang yang bersangkutan mendapat kesempatan untuk itu, dinyatakan hilang kewarganegaraan oleh Presiden atas permohonannya sendiri, yang bersangkutan sudah berusia 18 tahun atau sudah kawin, bertempat tinggal di luar negeri dan dengan dinyatakan hilang kewarganegaraan Republik Indonesia tidak menjadi tanpa kewarganegaraan, masuk dalam dinas tentara asing tanpa izin terlebih dahulu dari Presiden, secara sukarela masuk dalam dinas negara asing, yang jabatan dalam dinas semacam itu di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undngan hanya dapat dijabat oleh warga negara Indonesia, secara sukarela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara asing atau bagian dari negara asing tersebut, tidak diwajibkan tapi turut serta dalam pemilihan sesuatu yangbersifat ketatanegaraan untuk suatu negara asing, mempunyai paspor atau surat yang bersifat paspor dari negara asing atau surat yang dapat diartikan sebagai tanda kewarganegaraan yang masih berlaku dari negara lain atas namanya, bertempat tinggal diluar wilayah negara republic Indonesia selama 5 (liama0 tahun berturut-turut bukan dalam rangaka dinas negara, tanpa alas an yang sah dan dengan sngaja tidak menyatakan keinginannya untuk tetap menjadi Warga Negara Indonedia sebelum jangka waktu 5(liama) tahun itu berakhir dan setiap 5 (lima) tahun berikutnya yang bersangkutan tidak mengajukan pernytaaan ingin tetap menjadi warga Negara Indonesia kepada perwakilan RI yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal yang bersangkutan padahal perwakilan RI tersebut telah memberitahukan secara tertulis kepada yang bersangkutan tidak menjadi tanpa kewarganegaraan.

ANAK adalah subjek hukum yang belum cakap melakukan perbuatan hukum sendiri sehingga harus dibantu oleh orang tua atau walinya yang memiliki kecakapan. Pengaturan status hukum anak hasil perkawinan campuran dalam UU Kewarganegaraan yang baru, memberi pencerahan yang positif, terutama dalam hubungan anak dengan ibunya, karena UU baru ini mengizinkan kewarganegaraan ganda terbatas untuk anak hasil perkawinan campuran.


peranan pemuda dalam masyarakat

PEMUDA merupakan generasi penerus sebuah bangsa, kader bangsa, kader masyarakat dan kader keluarga. Pemuda selalu diidentikan dengan perubahan, betapa tidak peran pemuda dalam membangun bangsa ini, peran pemuda dalam menegakkan keadilan, peran pemuda yang menolak kekeuasaan.
Sejarah telah mencatat kiprah pemuda-pemuda yang tak kenal waktu yang selalu berjuang dengan penuh semangat biarpun jiwa raga menjadi taruhannya. Indonesia merdeka berkat pemuda-pemuda Indonesia yang berjuang seperti Ir. Sukarno, Moh. Hatta, Sutan Syahrir, Bung Tomo dan lain-lain dengan penuh mengorbankan dirinya untuk bangsa dan Negara.
Dalam sebuah pidatonya, Sukarno pernah mengorbakan semangat juang Pemuda apa kata Sukarno “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan dunia”. Begitu besar peranan pemuda di mata Sukarno, jika ada sembilan pemuda lagi maka Indonesia menjadi negara Super Power.
Satu tumpah darah, satu bangsa dan satu baPEMUDA merupakan generasi penerus sebuah bangsa, kader bangsa, kader masyarakat dan kader keluarga. Pemuda selalu diidentikan dengan perubahan, betapa tidak peran pemuda dalam membangun bangsa ini, peran pemuda dalam menegakkan keadilan, peran pemuda yang menolak kekeuasaan.
Sejarah telah mencatat kiprah pemuda-pemuda yang tak kenal waktu yang selalu berjuang dengan penuh semangat biarpun jiwa raga menjadi taruhannya. Indonesia merdeka berkat pemuda-pemuda Indonesia yang berjuang seperti Ir. Sukarno, Moh. Hatta, Sutan Syahrir, Bung Tomo dan lain-lain dengan penuh mengorbankan dirinya untuk bangsa dan Negara.
Dalam sebuah pidatonya, Sukarno pernah mengorbakan semangat juang Pemuda apa kata Sukarno “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan dunia”. Begitu besar peranan pemuda di mata Sukarno, jika ada sembilan pemuda lagi maka Indonesia menjadi negara Super Power.
Satu tumpah darah, satu bangsa dan satu bahasa merupakan sumpah pemuda yang di ikrarkan pada tanggal 28 Oktober 1928. Begitu kompaknya pemuda Indonesia pada waktu itu, dan apakah semangat pemuda sekarang sudah mulai redup, seolah dalam kacamata negara dan masyarakat seolah-olah atau kesannya pemuda sekarang malu untuk mewarisi semangat nasionalisime. Hal tersebut di pengaruhi oleh Globalisasi yang penuh dengan tren.

Senin, 11 Oktober 2010

alkulturasi

1. Teori Analisis Kebudayaan Kebudayaan Implisit
Kebuyaan implicit bermakna kebuyaan immaterial yang bentuknya tidak tampak sebagai benda namun tersirat dalam nilai/norma budaya masyarakat, misalnya bahasa. Teori ini mengacu pada beberapa asumsi antara lain:
1. Kebudayaan mempengaruhi skema kognitif
Frake (1968) mengemukakan bahwa manusia mempunyai wilayah skema kognitif sendiri. Dengan ini manusia kemudian menetapkan strategi berpikir dan bertindak yang dipengaruhi oleh system kognitif etnografi.
2. Kebudayaan mempengaruhi organisasi tujuan dan strategi tindakan
3. Kebudayaan mempengaruhi pengorganisasian skema interaksi
4. Kebudayaan mempengaruhi proses komunikasi
2. Teori Analisis Interaksi Antarbudaya
Teori ini didasarkan pada proses komunikasi antar manusia dengan latar kebudayaan yang berbeda. Adapun proses pendekatannya melalui Pendekatan Jaringan Metateoritikal mengacu pada pengertian nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat sangat menentukan otonomi individu, ketergantungan individu dengan orang lain.

3. Teori Pertukaran
Teori ini dikembangkan oleh Thibaut dan Kelley (Liliweri, 1991). Teori ini mengatakan hubungan antarpribadi bisa diteruskan dan dihentikan disebabkan oleh adanya dinamika perkembangan hubungan antarpribadi. Selain itu factor tingkat pengalaman berupa tingkat motivasi dan sasaran individu juga turut mempengaruhi.

4. Teori Pengurangan tingkat ketidakpastian
Berger (1982) mengemukakan salah satu fungsi dari komunikasi adalah sebagai media untuk mengurangi ketidakpastian antara komunikator dan komunikan.

5. Teori Determinasi Teknologi
Teori ini mengungkapkan suatu peradaban modern merupakan hasil dari suatu penemuan teknologi baru yang mempengaruhi pola suatu kebudayaan.

6. Face-Negotiation Theory.
Teori yang dipublikasikan Stella Ting-Toomey ini membantu menjelaskan perbedaan –perbedaan budaya dalam merespon konflik. Ting-Toomey berasumsi bahwa orang-orang dalam setiap budaya akan selalu negotiating face. Istilah itu adalah metaphor citra diri publik, cara kita menginginkan orang lain melihat dan memperlakukan diri kita. Face work merujuk pada pesan verbal dan non verbal yang membantu menjaga dan menyimpan rasa malu (face loss), dan menegakkan muka terhormat. Identitas kita dapat selalu dipertanyakan, dan kecemasan dan ketidakpastian yang digerakkan oleh konflik yang membuat kita tidak berdaya/harus terima. Postulat teori ini adalah face work orang-orang dari budaya individu akan berbeda dengan budaya kolektivis. Ketika face work adalah berbeda, gaya penangan konflik juga beragam.
7. Teori Pengelolaan Kecemasan/Ketidakpastian
Teori yang di publikasikan William Gudykunst ini memfokuskan pada perbedaan budaya pada kelompok dan orang asing. Ia berniat bahwa teorinya dapat digunakan pada segala situasi dimana terdapat perbedaan diantara keraguan dan ketakutan.
Ia menggunakan istilah komunikasi efektif kepada proses-proses meminimalisir ketidakmengertian. Penulis lain menggunakan istilah accuracy, fidelity, understanding untuk hal yang sama.
Gudykunst menyakini bahwa kecemasan dan ketidakpastian adalah dasar penyebab dari kegagalan komunikasi pada situasi antar kelompok. Terdapat dua penyebab dari mis-interpretasi yang berhubungan erat, kemudian melihat itu sebagai perbedaan pada ketidakpastian yang bersifat kognitif dan kecemasan yang bersifat afeksi- suatu emosi

BAB II. PEMBAHASAN

2.1 Masalah yang dihadapi negara dalam proses Akulturasi dan Inkulturasi Budaya
Arus globalisasi telah menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan budaya bangsa Indonesia. Derasnya arus informasi dan telekomunikasi menimbulkan kecenderungan yang mengarah pada memudarnya nilai-nilai pelestarian budaya. Perkembangan 3T (Transportasi, Telekomunikasi, dan Teknologi) mengkibatkan berkurangnya keinginan untuk melestarikan budaya negeri sendiri. Budaya Indonesia yang dulunya ramah-tamah, gotong royong dan sopan berganti dengan budaya barat, misalnya pergaulan bebas.
Indonesia merupakan salah satu bangsa yang mempunyai nilai-nilai budaya dasar yang sangat kental dan tersebar di seluruh Indonesia. Salah satu dampak dari proses Akultutasi dan Inkulturasi budaya yang paling dirasakan adalah bergesernya nilai-nilai budaya lokal ke arah budaya barat.
Hal lain yang menjadi masalah bagi negara dalam proses Akultuasi dan Inkulturasi adalah rendahnya pemahaman dalam pemakaian bahasa indonesia yang baik dan benar (bahasa juga salah satu budaya bangsa). Sudah lazim di Indonesia untuk menyebut orang kedua tunggal dengan Bapak, Ibu, Pak, Bu, Saudara, Anda dibandingkan dengan kau atau kamu sebagai pertimbangan nilai rasa.
Saat ini ada kecenderungan di kalangan anak muda yang lebih suka menggunakan bahasa Indonesia dialek Jakarta seperti penyebutan kata gue (saya) dan lu (kamu). Selain itu kita sering dengar anak muda mengunakan bahasa Indonesia dengan dicampur-campur bahasa inggris seperti OK, No problem dan Yes’. Fenomena ini merupakan dampak dari arus iformasi yang tersalurkan melalui media TV, Surat Kabar, Internet dan sebagainya.
Gaya berpakaian remaja Indonesia yang dulunya menjunjung tinggi norma kesopanan telah berubah kearah barat. Ada kecenderungan bagi remaja memakai pakaian minim dan ketat yang memamerkan bagian tubuh tertentu. Budaya ini diadopsi dari film-film maupun berbagai media lainnya yang ditransformasikan barat ke dalam masyarakat Indonesia.

2.2 Peran Agama dalam menyikapi proses Akulturasi dan Akulturasi Budaya Bangsa
Agama memiliki makna sebagai ajaran yang membebaskan dan memberikan pencerahan (enlightenment) kepada umat manusia. Posisi agama dalam kehidupan tidaklah statis dan konstan. Kadang ia disanjung, dihormati, dan dibela. Tapi ia terkadang juga dicurigai, dicaci dan kalau perlu dimusnahkan.
Agama hadir dalam rangka merespon masalah/sesuatu yang menyimpang dalam masyarakat. Dalam menghadapi arus globalisasi budaya, perlu adanya penguatan religiusitas/pemahaman nilai-nilai keagamaan. Agama memiliki “tanggung jawab sosial” (global responsibility) untuk menyelesaikan pelbagai problematika yang terjadi ditengah masyarakat multikultural seperti Indonesia.
Agama dalam hal ini memiliki peranan menanamkan nilai-nilai ajaran yang mengacu pada tatanan sosial dengan berpegang teguh pada nilai-nilai luhur kebudayaan. Agama dan budaya harus saling sinkron dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan masyarakat. Sehingga pergeseran budaya yang terjadi kini dapat terminimalisir dengan adanya pemahaman dan penerapan nilai-nilai agama.

2.3 Harapan dari adanya proses Akulturasi dan Akulturasi
Budaya Bangsa
Proses Akulturasi dan Inkulturasi ditengah arus globalisasi saai ini adalah yang wahar terjadi. Saling mempengaruhi adalah gejala yang wajar dalam interaksi antar masyarakat. Dalam hal ini media memiliki perananan penting untuk menstransformasikan pesan-pesan budaya. Fenomena ini tentu saja membawa dampak pada masuknya nilai-nilai budaya asing kedalam masyarakat.
Sebenarnya proses Akulturasi dan Inkulturasi adalah sesuatu yang harus disikapi dengan bijak. Banyak arus informasi budaya asing yang membawa inovasi pada budaya lokal yang seharusnya tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya lokal. Contoh kecil, pementasan tari atau acara sejenis lainnya, kini dapat lebih bergairah dengan sajian teknologi modern.
Namun tidak dapat dipungkiri, fenomena masuknya budaya asing juga telah banyak menggeser nilai-nilai budaya lokal masyarakat. Masalahnya sekarang adalah tinggal bagaimana kita menyikapinya. Salah satunya adalah dengan memainkan peranan agama melalui penanaman nilai-nilai agama sebagai acuan tatanan hidup yang baik. Perlu ada sinkronisasi nilai-nilai budaya dengan nilai-nilai agama sehingga penerapan budaya dapat tercermin dengan cara-cara yang benar.